Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Indah di Mata, Asing di Rasa

Indah di Mata, Asing di Rasa: Catatan dari Tanah Mentawai yang Perlahan Menjauh dari Dirinya Sendiri Yang saya lihat indah, tapi yang saya rasakan justru asing. K alimat itu tidak lahir dari kejauhan. Ia datang dari pengalaman yang berulang—dari langkah kaki di pasir pantai Mentawai, dari percakapan yang terdengar di warung-warung kecil, dari perjalanan di kapal antar pulau, hingga dari suasana di kantor-kantor pemerintahan. Mentawai, bagi banyak orang, adalah surga. Ombaknya dikenal hingga mancanegara. Pantainya bersih dan alami. Budayanya unik, bahkan sering disebut sebagai salah satu yang paling autentik di Indonesia. Nama-nama seperti sikerei , uma , dan tradisi Arat Sabulungan menjadi bagian dari narasi besar yang dipromosikan ke dunia luar. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang pelan-pelan terasa hilang—atau setidaknya, semakin samar. Rasa. Rasa sebagai orang yang benar-benar berada di Mentawai. ...