Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Jangan Sampai Kita Kehilangan Lebih Dari Yang Kita Dapatkan

Gambar
Jangan Sampai Kita Kehilangan Lebih dari yang Kita Dapatkan Catatan kecil tentang pembukaan lahan, gambut, air bersih, dan masa depan Sikabaluan–Mongan Poula. gambar dihasilkan oleh AI. Kiriman dari 23April Vera Ada perubahan yang belakangan ini mulai terlihat di sekitar kita. Di Sikabaluan dan Mongan Poula, sebagian kawasan yang sebelumnya ditumbuhi pepohonan dan vegetasi rawa mulai dibuka. Lahan yang dahulu terlihat hijau kini mulai berubah, dan sebagian telah ditanami kelapa sawit. Saya menulis ini bukan untuk menentang siapa pun. Bukan pula untuk menyalahkan masyarakat yang memilih membuka lahan dan menanam sawit. Saya memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan ekonomi, memiliki keluarga yang harus diperjuangkan, dan tentu menginginkan kehidupan yang lebih baik. Mencari penghidupan adalah hal yang wajar. Meningkatkan ekonomi keluarga juga merupakan harapan setiap orang. Namun, di tengah perubahan ini, ada satu hal yang menu...

Indah di Mata, Asing di Rasa

Indah di Mata, Asing di Rasa: Catatan dari Tanah Mentawai yang Perlahan Menjauh dari Dirinya Sendiri Yang saya lihat indah, tapi yang saya rasakan justru asing. K alimat itu tidak lahir dari kejauhan. Ia datang dari pengalaman yang berulang—dari langkah kaki di pasir pantai Mentawai, dari percakapan yang terdengar di warung-warung kecil, dari perjalanan di kapal antar pulau, hingga dari suasana di kantor-kantor pemerintahan. Mentawai, bagi banyak orang, adalah surga. Ombaknya dikenal hingga mancanegara. Pantainya bersih dan alami. Budayanya unik, bahkan sering disebut sebagai salah satu yang paling autentik di Indonesia. Nama-nama seperti sikerei , uma , dan tradisi Arat Sabulungan menjadi bagian dari narasi besar yang dipromosikan ke dunia luar. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang pelan-pelan terasa hilang—atau setidaknya, semakin samar. Rasa. Rasa sebagai orang yang benar-benar berada di Mentawai. ...