Indah di Mata, Asing di Rasa

Indah di Mata, Asing di Rasa: Catatan dari Tanah Mentawai yang Perlahan Menjauh dari Dirinya Sendiri

Yang saya lihat indah, tapi yang saya rasakan justru asing.

K alimat itu tidak lahir dari kejauhan. Ia datang dari pengalaman yang berulang—dari langkah kaki di pasir pantai Mentawai, dari percakapan yang terdengar di warung-warung kecil, dari perjalanan di kapal antar pulau, hingga dari suasana di kantor-kantor pemerintahan.

Mentawai, bagi banyak orang, adalah surga. Ombaknya dikenal hingga mancanegara. Pantainya bersih dan alami. Budayanya unik, bahkan sering disebut sebagai salah satu yang paling autentik di Indonesia. Nama-nama seperti sikerei, uma, dan tradisi Arat Sabulungan menjadi bagian dari narasi besar yang dipromosikan ke dunia luar.


Namun di balik semua itu, ada satu hal yang pelan-pelan terasa hilang—atau setidaknya, semakin samar.

Rasa.

Rasa sebagai orang yang benar-benar berada di Mentawai.

Di beberapa titik wisata, para pedagang berbicara dengan bahasa Minang. Di kapal-kapal yang menghubungkan pulau-pulau di Mentawai, percakapan yang dominan juga sering kali bukan bahasa Mentawai. Bahkan di kantor pemerintahan—ruang yang seharusnya menjadi representasi resmi daerah—situasi yang sama juga kerap ditemui.

Tidak ada yang salah dengan bahasa Minang. Ia adalah bagian dari dinamika sosial Sumatera Barat. Ia hidup, berkembang, dan menjadi penghubung antar banyak orang.

Namun pertanyaannya bukan tentang benar atau salah.

Pertanyaannya adalah:
di mana posisi bahasa Mentawai di tanahnya sendiri?


Ketika seseorang datang ke Mentawai, ia mungkin berharap lebih dari sekadar pemandangan. Ia ingin merasakan suasana. Ia ingin mendengar bagaimana orang lokal berbicara, bagaimana mereka menyapa, bagaimana kehidupan sehari-hari berjalan secara alami.

Karena budaya bukan hanya apa yang dipertontonkan.
Budaya adalah apa yang dihidupi.

Bahasa Mentawai bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah bagian dari identitas—bagian dari cara pandang hidup, cara memahami alam, dan cara membangun hubungan antar manusia. Dalam setiap kata, ada jejak sejarah. Dalam setiap ungkapan, ada nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ketika bahasa itu tidak lagi terdengar di ruang-ruang publik,
yang hilang bukan hanya bunyi.
Yang hilang adalah makna.


Ironisnya, di saat yang sama, Mentawai sedang didorong sebagai destinasi wisata budaya. Budaya diangkat, dipromosikan, bahkan dijadikan daya tarik utama. Namun jika dalam praktik sehari-hari identitas itu tidak terasa kuat, maka ada jarak antara apa yang dijual dan apa yang nyata.

Ini adalah sebuah kontradiksi yang tidak selalu terlihat, tapi bisa dirasakan.

Indah di mata, tapi asing di rasa.

Fenomena ini tentu tidak berdiri sendiri. Ada banyak faktor yang mungkin berperan. Arus pendatang yang datang untuk berdagang dan bekerja. Kebutuhan ekonomi yang menuntut adaptasi cepat. Kurangnya ruang bagi bahasa lokal dalam sistem pelayanan publik. Hingga kemungkinan bahwa generasi muda sendiri mulai menjauh dari bahasa ibunya.

Semua ini adalah realitas yang kompleks.

Namun justru karena kompleks, ia tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa arah.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Bukan untuk menolak keberagaman, bukan untuk menyingkirkan bahasa lain, tetapi untuk memastikan bahwa identitas lokal tidak tenggelam di tanahnya sendiri.

Keseimbangan adalah kuncinya.

Bahasa Mentawai seharusnya hadir di ruang publik—di tempat wisata, di pelabuhan, di kapal antar pulau, di kantor pemerintahan. Bukan sebagai simbol semata, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bayangkan jika seorang wisatawan datang, lalu disambut dengan sapaan dalam bahasa Mentawai. Mendengar percakapan lokal yang hidup. Melihat bahwa budaya yang mereka cari benar-benar hadir, bukan hanya dipajang.

Pengalaman itu akan jauh lebih bermakna.

Lebih dari itu, bagi masyarakat Mentawai sendiri, kehadiran bahasa di ruang publik adalah bentuk pengakuan. Bahwa mereka tidak hanya menjadi bagian dari cerita, tetapi juga pemilik utama dari tanah dan identitas itu sendiri.

Jika tidak ada upaya untuk menjaga keseimbangan ini, maka ada satu kemungkinan yang pelan-pelan mendekat:

Mentawai akan semakin dikenal dunia,
namun semakin jauh dari dirinya sendiri.

Dan ketika itu terjadi, yang tersisa mungkin hanyalah keindahan yang bisa dilihat, tanpa kedalaman yang bisa dirasakan.

Padahal, kekuatan sejati Mentawai bukan hanya pada ombaknya, bukan hanya pada alamnya, tetapi pada jiwanya—pada manusia, bahasa, dan cara hidup yang membentuknya sejak lama.

Menjaga itu bukan hanya tugas satu pihak. Tapi langkah kecil harus dimulai dari kesadaran.

Bahwa menjadi tuan rumah di tanah sendiri berarti tetap menghadirkan diri sendiri—dengan bahasa, dengan rasa, dan dengan identitas yang tidak hilang di tengah perubahan.

Komentar