Langsung ke konten utama

Bojakan Kembali Dilanda Banjir Besar: Air Menaik Sampai Dua Meter, Warga Bertahan di Rumah

Bojakan Kembali Dilanda Banjir Besar: Air Menaik Sampai Dua Meter, Warga Bertahan di Rumah

27 November 2025 — Oleh: Yohanes Irman - KINEKRE
           sumber: dokumen pribadi kinekre

Hujan deras yang terus mengguyur Bojakan selama hampir satu bulan terakhir akhirnya mencapai puncaknya pada 27 November 2025. Sejak malam tanggal 26 November 2025, curah hujan meningkat tajam. Saat pagi tiba, air sungai yang tak mampu lagi menahan debit air mulai naik dan akhirnya meluap hingga memasuki pemukiman Dusun Bojakan.

Puluhan rumah terendam banjir. Beberapa di antaranya bahkan terendam hingga dua meter, membuat banyak barang-barang warga tak sempat diselamatkan. Meski kondisi cukup mengkhawatirkan, masyarakat tetap memilih bertahan di rumah masing-masing. Bukan karena situasi aman, tetapi karena Bojakan tidak memiliki fasilitas pengungsian yang memadai. Bertahan di rumah adalah satu-satunya pilihan.

                               Dok.kinekre

Kerusakan pada Kebun, Sawah, dan Tanaman Warga

Banjir besar kali ini tidak hanya menggenangi rumah penduduk, tetapi juga menghancurkan sebagian besar sumber penghidupan warga:

  • Sawah padi seluas ±3 hektar terendam total. Padi yang baru berusia sekitar 4 minggu itu rusak dan terancam gagal panen.
  • Kebun jagung kembali terendam, setelah sebelumnya juga rusak akibat banjir sebelumnya.
  • Pisang masyarakat banyak yang hanyut terbawa arus.
  • Pinang dan kelapa turut terendam dan banyak yang roboh.

Kerusakan ini menambah beban masyarakat yang selama ini mengandalkan pertanian dan hasil kebun sebagai sumber ekonomi utama.

                              dok. Kinekre
           sumber: Dokumen pribadi kinekre 

Jembatan Terendam & Akses Air Bersih Terganggu

Beberapa jembatan kecil di area pemukiman Bojakan juga terendam banjir. Meskipun bukan jembatan antar dusun, keberadaan jembatan ini penting untuk aktivitas harian. Kondisi yang terendam membuat mobilitas warga semakin terbatas.

Sumber air bersih masyarakat pun ikut terdampak. Curah hujan tinggi dan banjir membuat air menjadi keruh, tersumbat, dan tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Bantuan yang Sering Tak Sampai: Membuat Warga Makin Kehilangan Harapan

Dalam situasi seperti ini, masyarakat Bojakan sebenarnya sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah atau dinas terkait. Namun karena akses menuju Bojakan satu-satunya hanya melalui jalur air dengan pompong, kondisi banjir dan arus deras sering membuat perjalanan terhambat atau bahkan tidak memungkinkan.

Akibatnya, bantuan sering kali tidak sampai atau datang sangat terlambat. Situasi ini membuat masyarakat merasa kecewa dan seolah-olah menghadapi bencana sendirian, tanpa dukungan yang memadai pada saat-saat paling kritis.

Warga tidak menuntut berlebihan; mereka hanya berharap dukungan yang lebih cepat dan tepat ketika bencana melanda.

                dokumen pribadi kinekre 

Empat Kali Banjir Besar Dalam Satu Tahun

Tahun ini saja, Bojakan sudah mengalami empat kali banjir besar—frekuensi yang jauh lebih sering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya hanya sekali dalam setahun atau dua tahun sekali.

Situasi ini membuat kekhawatiran warga semakin meningkat. Dengan infrastruktur terbatas dan upaya mitigasi yang minim, masyarakat merasa kondisi Bojakan semakin rentan.

Kekhawatiran Baru: Rencana HTI dan Dampaknya bagi Bojakan

Di tengah bencana yang berulang dan infrastruktur yang belum memadai, masyarakat juga mulai menyuarakan kekhawatiran baru: rencana masuknya HTI (Hutan Tanaman Industri) di wilayah sekitar Bojakan.

Bagi warga yang sudah berulang kali terdampak banjir, munculnya HTI dikhawatirkan akan memperparah kondisi lingkungan—mulai dari berkurangnya daerah resapan air, perubahan struktur tanah, hingga risiko banjir yang semakin parah. Di saat masyarakat masih berjuang bertahan dari banjir yang semakin sering, rencana HTI menambah kecemasan baru.

Warga berharap rencana tersebut benar-benar dikaji secara serius dan mempertimbangkan kondisi geografis serta kerentanan Bojakan. Jangan sampai kebijakan baru justru memperbesar risiko bencana di masa depan.

                                dok. Kinekre

Penutup

Banjir besar kali ini kembali memperlihatkan betapa rentannya Bojakan dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem. Namun dalam keterbatasan, warga tetap saling mendukung dan bertahan bersama.

Masyarakat Bojakan tidak menuntut banyak. Mereka hanya menginginkan perhatian serius—baik dalam penanganan bencana, perbaikan infrastruktur dasar, maupun setiap rencana pembangunan yang menyangkut wilayah mereka. Agar Bojakan tidak terus menjadi korban banjir berulang dari tahun ke tahun.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan laporan lapangan dan keterangan warga Dusun Bojakan pada 27 November 2025.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

🌳 Bojakan Antara Hutan, Sungai, dan Ancaman HTI

Impian Warga Pedalaman Mulai Menyala: Listrik PLN Hadir untuk Sekolah di Bojakan