Dari Bojakan: Tanah Keras, Harapan yang Tetap Tumbuh

Hidup di Bojakan bukan perkara mudah. Tanah pertanian sebagian besar berupa tanah liat berwarna kuning, yang sulit ditanami dan cepat tergenang air. Bagi petani, itu berarti kerja keras yang sering berujung pada hasil seadanya. Belum lagi banjir yang sewaktu-waktu datang dan merusak tanaman.

Di tengah kondisi itu, ada kebutuhan mendesak: pagar pertanian. Tanaman sering rusak oleh banjir dan hewan, sehingga hasil panen tidak pernah benar-benar aman. Pagar kawat dianggap sebagai solusi yang lebih kuat dan tahan lama.

Namun pagar saja tidak cukup. Masyarakat Bojakan berharap ada pendampingan dan edukasi tentang pemeliharaan tanah. Kami ingin belajar bagaimana tanah yang liat ini bisa kembali subur—dengan kompos, pupuk organik, dan teknik bercocok tanam yang sesuai. Lebih dari itu, kami ingin ada fasilitasi nyata:
🌱Kompos dan pupuk organik yang bisa memperbaiki kualitas tanah.
🌱Pagar kawat yang kuat untuk melindungi hasil pertanian.
🌱Pembukaan dan pembebasan lahan pertanian baru.
🌱Fasilitas pendukung seperti irigasi kecil, akses jalan ke lahan, dan alat pertanian sederhana.
🌱Sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat agar lebih siap menghadapi banjir dan mengelola lahan.
    Foto pagar lahan pertanian masyarakat Bojakan pasca diterjang banjir.

Tetapi Bojakan tidak hanya tentang pertanian. Masyarakat melihat ada potensi lain yang bisa dikembangkan: ekowisata berbasis alam dan budaya, perikanan air tawar, dan usaha kecil berbasis potensi lokal. Semua itu bisa membantu membuka peluang ekonomi baru, meningkatkan daya beli, dan memperbaiki kualitas hidup warga.

Masalah yang kami hadapi bukan semata-mata soal tanah liat atau banjir. Jarak dari pusat kecamatan membuat harga kebutuhan sehari-hari lebih mahal, pendidikan anak-anak berjalan lambat, dan kesehatan pun belum sepenuhnya terjamin. Itulah sebabnya masyarakat Bojakan tidak hanya butuh semangat, tetapi juga perhatian nyata dari pemerintah dan pihak-pihak terkait.

Suara sederhana dari Pak R. Takleyak dan Pak Martinus malam itu sesungguhnya adalah suara seluruh Bojakan: suara yang tidak ingin terus mengeluh, tetapi ingin bergerak maju bersama pendampingan yang tepat.

Tanah boleh keras dan banjir boleh datang, tetapi harapan masyarakat Bojakan tetap tumbuh. Kami percaya, dengan perhatian bersama, anak-anak Bojakan bisa memiliki masa depan yang lebih baik—dengan tanah yang subur, usaha yang beragam, dan kehidupan yang lebih layak.

    Foto salah satu dari banyak kolam ikan masyarakat tapi belum ada bibit ikan dan pakan.
---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🌳 Bojakan Antara Hutan, Sungai, dan Ancaman HTI

Bojakan Kembali Dilanda Banjir Besar: Air Menaik Sampai Dua Meter, Warga Bertahan di Rumah

Impian Warga Pedalaman Mulai Menyala: Listrik PLN Hadir untuk Sekolah di Bojakan