Sampan Bojakan: Warisan Adat, Gotong Royong, dan Identitas Orang Mentawai
Di Desa Bojakan, sampan bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bagian dari identitas, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti yang dilakukan oleh Pak Martinus, salah satu tokoh masyarakat Bojakan, pembuatan sampan masih mengikuti jejak orang tua dulu—perpaduan antara keterampilan tangan, pemilihan kayu, serta aturan adat yang melekat kuat.
Kayu Pilihan: Bukan Sembarang Pohon Besar
Sampan tidak bisa dibuat dari sembarang kayu. Orang Bojakan memilih jenis kayu tertentu yang dikenal tahan air, kuat, dan tidak mudah pecah, seperti katuka, ataran, kaboi, macemen, garau, dan menegan. Pohon-pohon ini hanya bisa ditemukan di hutan, dan umumnya berukuran besar dengan kualitas yang sudah teruji oleh waktu.
Sebelum menebang, masyarakat memegang pantangan tertentu. Misalnya, pemilik sampan dilarang memakan pucuk nibung karena dipercaya kayu yang ditebang bisa retak. Selain itu, ada pantangan umum sebelum bekerja berat, seperti menahan diri dari aktivitas tertentu demi menjaga keselamatan dan kelancaran pekerjaan. Setelah pohon ditebang, penebang akan menancapkan tunas kayu kecil pada pangkal bekas tebangan sebagai simbol pengganti pohon yang telah diambil.
Alat: Dari Onggut hingga Gergaji Mesin
Peralatan membuat sampan juga berkembang dalam tiga periode.
Periode pertama (dulu): hanya memakai onggut (kaonggutan), semacam kapak tipis sepanjang satu jengkal dengan lebar bilah sekitar 7 cm. Mata onggut dibuat runcing agar bisa ditancapkan ke gagang kayu yang dianyam khusus.
Periode kedua (pertengahan): selain onggut, masyarakat mulai memakai kapak. Kapak dianggap lebih praktis karena tidak perlu anyaman gagang seperti onggut.
Periode ketiga (sekarang): alat modern seperti sinso (gergaji mesin), mesin katam, dan bor mesin mulai digunakan. Meski begitu, onggut dan kapak tetap dipakai untuk detail yang tidak bisa dijangkau mesin.
Gotong Royong, Sinurung, dan Balit
Proses pembuatan sampan tidak pernah dilakukan sendiri. Minimal dibutuhkan lima orang, yang terdiri dari keluarga dekat serta sinurung—orang-orang yang biasa terlibat dalam pembuatan sampan. Pemilik sampan bertanggung jawab menyediakan balit, yaitu bekal makanan berupa babi, ayam, sagu, keladi, dan lainnya.
Dulu, jika pemilik mampu, satu ekor babi bisa disediakan untuk setiap hari pengerjaan. Namun sekarang, jumlah balit cenderung lebih sederhana. Hal ini bukan mengurangi tradisi, melainkan karena kesadaran masyarakat bahwa semangat gotong royong jauh lebih penting. Orang Bojakan sama-sama sadar bahwa mereka saling membutuhkan. Jadi, kerja membantu membuat sampan tidak lagi semata-mata dihitung dari besar kecilnya balit, melainkan sebagai wujud kebersamaan dan solidaritas antarwarga.
Durasi Pembuatan
Lama pengerjaan berbeda-beda tergantung zaman dan alat yang digunakan:
Periode pertama (tradisional): 9–12 hari.
Periode kedua (pertengahan): 7–9 hari.
Periode modern: hanya 3–5 hari untuk pengerjaan kasar di hutan.
Menarik Sampan dari Hutan
Setelah sampan selesai dibuat di hutan, tantangan berikutnya adalah menarik sampan menuju sungai atau pemukiman. Tahap ini melibatkan 20–30 orang, karena ukuran dan bobot sampan yang sangat besar. Untuk pekerjaan berat ini, pemilik sampan menyiapkan balit khusus, di luar balit pembuatan. Suasana penarikan sampan biasanya ramai, mirip pesta kerja, dengan gotong royong yang menjadi inti dari tradisi.
Manendek (Finishing)
Tahap akhir disebut manendek atau finishing. Dahulu, karena hanya memakai onggut, pekerjaan ini bisa memakan waktu hingga tiga hari dan membutuhkan sinurung khusus, lengkap dengan balit tersendiri. Kini, berkat peralatan modern, manendek bisa selesai hanya dalam satu hari, atau paling lama dua hari jika santai. Meski begitu, alat tradisional tetap dipakai pada bagian tertentu, sehingga sentuhan lama masih melekat.
Sentuhan Modern
Seiring waktu, ada beberapa sentuhan modern yang ikut memperkaya tradisi pembuatan sampan. Dulu, sampan dibiarkan polos tanpa lapisan pelindung. Namun kini, masyarakat Bojakan mulai menggunakan cat untuk memperindah tampilan sekaligus memperpanjang umur kayu. Cat bukan hanya memberikan warna yang mempercantik sampan, tetapi juga berfungsi sebagai pelapis agar kayu tidak mudah rusak.
Salah satu manfaat terbesarnya adalah mencegah sampan dari serangan teritip atau tokeh laut—sejenis moluska yang biasa melubangi kayu di perairan. Dengan lapisan cat, sampan menjadi lebih tahan lama saat digunakan di sungai maupun laut. Sentuhan modern ini membuat sampan tetap indah sekaligus awet, tanpa menghilangkan makna tradisi di dalamnya.
Punen, Pasegek, dan Mumagri
Selesai manendek, masyarakat Bojakan mengadakan punen atau lia, pesta syukuran atas sampan baru. Dahulu, punen dilakukan secara tradisional dengan berbagai ritual adat. Seusai syukuran, para pekerja biasanya melakukan pasegek (berburu ke hutan) sebagai perayaan, lalu menutup seluruh rangkaian dengan mumagri, penanda bahwa pekerjaan benar-benar tuntas.
Kini, bentuk syukuran lebih sederhana. Pesta besar sudah jarang dilakukan. Sebagai gantinya, masyarakat Bojakan biasanya mengadakan doa syukur secara Katolik, sesuai keyakinan mayoritas warga. Meski bentuknya berubah, makna syukur dan kebersamaan tetap hidup dalam setiap pembuatan sampan.
Sampan: Lebih dari Sekadar Transportasi
Bagi orang Bojakan, sampan adalah warisan budaya. Dahulu ia dipakai bukan hanya sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai wadah dalam proses tradisional pengolahan sagu, bahkan dalam kondisi tertentu dijadikan pengganti peti jenazah. Sampan menjadi bukti bagaimana alam, adat, dan kehidupan masyarakat berpadu erat.
Hari ini, meski dunia modern semakin dekat, sampan tetap hadir di setiap rumah Bojakan, berbeda dengan desa-desa tetangga yang sudah memiliki akses darat. Harapan ke depan, keterampilan membuat sampan bisa terus diwariskan, agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman. Sebab sampan bukan sekadar kayu yang dilubangi dan dibentuk, melainkan simbol dari identitas, seni, dan kebersamaan orang Mentawai
---
Komentar
Posting Komentar