Impian Warga Pedalaman Mulai Menyala: Listrik PLN Hadir untuk Sekolah di Bojakan
Impian Warga Pedalaman Mulai Menyala: Listrik PLN Hadir untuk Sekolah di Bojakan
1. Mimpi Panjang Masyarakat Pedalaman
Bagi masyarakat di Bojakan dan banyak wilayah pedalaman Mentawai lainnya, listrik bukan hanya soal lampu yang menyala. Listrik adalah harapan baru: anak-anak bisa belajar pada malam hari, kegiatan masyarakat menjadi lebih mudah, dan akses pada teknologi serta informasi menjadi mungkin. Selama bertahun-tahun, impian ini terus disimpan, sambil berharap suatu saat pemerintah dapat benar-benar memperhatikan kebutuhan mereka.
Kini, impian itu mulai menemukan jalannya. Melalui program Bupati Mentawai untuk sekolah-sekolah pedalaman seperti SDN 15 Bojakan, akses listrik perlahan mulai hadir di tempat-tempat yang selama ini jauh dari perhatian.
2. Komitmen Pemerintah Daerah untuk Daerah 3T
Wilayah Mentawai termasuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Tantangannya besar: akses yang sulit, kondisi geografis yang berat, dan biaya pembangunan yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, komitmen pemerintah daerah memainkan peran penting.
Bupati Mentawai, Rinto Wardana, mendorong sejumlah program strategis untuk memajukan Mentawai, salah satunya pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi masyarakat pedalaman. Upaya ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
3. Peran PLN dan Program “Jelajah Mentawai Terang”
PLN menjadi mitra utama dalam upaya ini. Melalui program “Jelajah Mentawai Terang”, PLN berupaya menjangkau lebih banyak desa, termasuk desa yang aksesnya masih sangat sulit.
Beberapa desa di Mentawai telah menikmati listrik PLN, meskipun beberapa lainnya masih menunggu giliran. Desa Bojakan, yang berada di Kecamatan Siberut Utara, adalah salah satu desa yang belum sepenuhnya memperoleh pasokan listrik reguler. Meski begitu, langkah-langkah menuju perluasan elektrifikasi terus berjalan.
Secara keseluruhan, rasio elektrifikasi Sumatera Barat kini telah mencapai 99,9%, dan Mentawai menjadi salah satu fokus untuk melengkapi sisa titik-titik yang belum tersentuh.
4. Tantangan Lapangan: Cuaca yang Tidak Menentu
Penerapan sistem listrik di pedalaman Mentawai masih menghadapi kendala, terutama karena cuaca. Hujan yang turun sepanjang hari menyebabkan panel surya tidak mendapat panas matahari yang cukup. Akibatnya, baterai penyimpan arus listrik tidak dapat terisi penuh.
Pada situasi seperti ini, listrik hanya bertahan beberapa jam saja pada malam hari. Ini menjadi tantangan besar yang harus dicari solusinya, entah melalui penguatan kapasitas baterai, penggunaan sistem hybrid, atau dukungan tambahan dari pembangkit PLN lainnya.
5. Harapan Baru untuk Pendidikan di Bojakan
Kehadiran listrik di SDN 15 Bojakan adalah titik awal dari perubahan yang lebih besar. Dengan adanya listrik:
- Guru dapat menggunakan perangkat teknologi untuk mengajar.
- Anak-anak dapat belajar di malam hari dengan penerangan yang layak.
- Aktivitas sekolah lebih teratur dan produktif.
- Peluang untuk peningkatan kualitas pendidikan menjadi lebih luas.
Bagi masyarakat Bojakan, listrik bukan hanya soal terang, tetapi tentang kesempatan—kesempatan untuk berkembang dan mengejar ketertinggalan.
6. Menuju Masa Depan yang Lebih Baik
Sinergi antara Pemerintah Mentawai dan PLN menjadi harapan baru untuk masyarakat pedalaman. Meski perjalanan menuju pemerataan listrik masih panjang dan membutuhkan banyak tenaga serta biaya, langkah-langkah yang sedang berjalan saat ini memberi keyakinan bahwa masa depan Mentawai akan lebih terang.
Keberadaan listrik di sekolah pedalaman adalah pondasi awal. Dan jika pondasi ini terus diperkuat, dampaknya akan terasa luas: ekonomi tumbuh, pendidikan meningkat, dan kualitas hidup masyarakat pedalaman perlahan naik.
Mentawai sedang bergerak, dan Bojakan menjadi salah satu buktinya.
Penulis: Rilka Putra — Editor: Kinekre
Komentar
Posting Komentar