Badai Senyar, Banjir Sumatera, dan kisah sunyi dari Mentawai: Ekonomi Masyarakat Bojakan yang Lumpuh
Badai Senyar, Banjir Sumatra, dan Kisah Sunyi dari Mentawai: Ekonomi Masyarakat Bojakan yang Lumpuh
Beberapa waktu lalu, badai Senyar memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia. Angin kencang, hujan deras yang berkepanjangan, dan gelombang badai menyebabkan banjir besar di banyak daerah di Pulau Sumatra. Di kota-kota besar, pemberitaan penuh dengan gambar rumah roboh, jalan putus, dan korban terdampak.
Namun di sela-sela sorotan itu, ada wilayah yang nyaris tidak terdengar: Kepulauan Mentawai. Meski cuaca ekstrem dan luapan sungai juga melanda pulau-pulau ini, bantuan dan perhatian yang sampai kerap minim — dan beberapa desa malah hampir terlupakan saat bencana.
Sumatra Terendam Banjir, Mentawai Jarang Tersorot
Saat daratan Sumatra ramai diliput, kondisi di Mentawai sering tak mendapat porsi sama. Warga melaporkan bahwa bantuan yang datang di banyak titik sifatnya simbolis: beberapa bungkus mie instan, sepuluh butir telur, dan sekitar tiga kilogram beras per KK — bantuan yang disyukuri, namun belum menutup kebutuhan masa darurat.
Siberut Utara: Hampir Semua Desa Terdampak
Di Kecamatan Siberut Utara, hampir semua desa merasakan dampak banjir. Sungai meluap membawa lumpur dan batang pohon, memutus akses antar-dusun, merusak kebun, dan mengganggu stok pangan. Di antara desa-desa yang sangat terdampak, satu nama yang harus diperhatikan adalah Bojakan.
Bojakan: Desa Paling Sulit Dijangkau
Akses menuju Bojakan hanya bisa ditempuh dengan pompong (perahu bermesin kecil). Tidak ada jalan darat atau jalur darat alternatif. Rute yang sempit dan bergantung pada kondisi sungai membuat Bojakan menjadi desa yang paling sulit dikunjungi — terutama ketika kondisi cuaca buruk. Itulah salah satu alasan kenapa setiap kali bencana terjadi, Bojakan seringkali tidak pernah dikunjungi langsung oleh pihak luar.
Rumah Aman, Namun Ekonomi Runtuh
Pada aspek keselamatan, Bojakan relatif beruntung: tidak ada korban jiwa dan tidak ada rumah yang hanyut. Beberapa rumah sempat terendam hingga ±2 meter dari lantai, namun arus yang datang lebih bersifat genangan sehingga bangunan tetap berdiri. Meski demikian, dampak paling parah bukan pada bangunan, melainkan pada sumber penghidupan warga.
Kerusakan Pertanian: Sumber Hidup Lenser Dalam Sekejap
Hampir seluruh lahan pertanian Bojakan berada di pinggir sungai. Ketika banjir meluap, sawah, kebun, dan tanaman tahunan langsung terkena dampak berat. Berikut gambaran kerusakan yang paling terasa:
- Padi gagal panen total. Lahan sawah terendam lumpur tebal dan kerikil, membuat tanaman yang sedang tumbuh tidak bisa diselamatkan.
- Jagung hancur tak bersisa. Batang patah dan lahan tergerus — padahal jagung adalah cadangan pangan penting bagi rumah tangga.
- Pisang tumbang atau hanyut. Rumpun pisang di tepi sungai banyak yang hilang terbawa arus atau tumbang karena erosi.
- Kelapa dan pinang roboh. Tanaman tahunan ini butuh bertahun-tahun untuk produktif kembali — sehingga kerugian bersifat jangka panjang.
Dengan hampir semua ladang di bantaran sungai rusak, rutinitas ekonomi warga lumpuh: tidak ada panen yang bisa dijual, tidak ada cadangan pangan rumah tangga, dan sumber penghasilan harian — seperti pisang — hilang dalam semalam.
Kerugian Jangka Panjang
Kerusakan pada tanaman tahunan (kelapa, pinang) menyebabkan dampak yang tidak bisa dipulihkan segera. Satu pohon kelapa yang tumbang berarti hilangnya potensi penghasilan selama bertahun-tahun. Pemulihan memerlukan waktu, modal, dan akses yang saat ini sulit diperoleh bagi warga Bojakan.
Bojakan Butuh Perhatian yang Layak
Melihat kondisi nyata, Bojakan tidak meminta hal berlebih. Yang dibutuhkan jelas dan praktis:
- Bantuan pangan yang memadai untuk masa darurat (lebih dari paket simbolis).
- Bibit dan perlengkapan tanam untuk memulai kembali musim tanam.
- Dukungan alat untuk rehabilitasi lahan bantaran sungai (antierosi sederhana).
- Program pemulihan jangka menengah untuk tanaman tahunan (support replanting dan bantuan modal).
Banjir di Bojakan tidak merobohkan banyak rumah — namun dalam semalam berhasil merobohkan penghidupan seluruh desa.
Catatan: Semua foto di artikel ini berasal dari dokumentasi warga dan sumber lokal (Kinekre). Jika ada pembaruan gambar atau preferensi penempatan juga tambahan gambar, beritahu agar kami sesuaikan kembali.
Penutup
Bojakan adalah contoh bagaimana sebuah bencana tidak selalu diukur dari jumlah rumah yang hancur atau jumlah korban jiwa. Di sana, bencana terlihat pada ladang yang kosong, rumpun pisang yang hilang, dan pohon kelapa yang tumbang — sumber hidup yang hilang dalam sekejap. Perhatian dan bantuan yang tepat waktu dan memadai mutlak diperlukan agar penduduk tidak terjebak dalam kemiskinan pasca-bencana.
— Selesai —
Komentar
Posting Komentar